Thariq bin Ziyad
Peletak Era Baru Islam di Spanyol
Setelah mendarat di wilayah pantai Spanyol, sambil memandang ke arah karang yang berada di bawah mereka dan kemudian dinamai dengan Jabal al-Tariq (Jibraltar), penakluknya, Thariq bin Ziyad, memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa para pasukan Islam dari Afrika menyeberangi selat tersebut pada tahun 711 Masehi.
"Kenapa anda membakar kapal-kapal itu ?" bertanya para prajuritnya yang keheranan.
"Bagaimana kita kembali nanti?" sahut yang lainnya.
Thariq nampaknya tidak mengabaikan pertanyaan prajuritnya tersebut.
Sebagai jawabannya, ia mengungkapkan kata-katanya yang bersejarah, yang mampu membangkitkan semangat para prajurit muslim untuk berani. Dia berkata : "Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya mempunyai dua pilihan, menaklukkan negeri ini dan kemudian menetap di sini atau kita semua binasa di tangan musuh."
Iqbal menggubah syair yang membangkitkan semangat tentang peristiwa bersejarah itu dalam karya Persianya yang berjudul "Piyam-i-Mashriq" yang berbunyi:
"Tatkala Thariq membakar kapal-kapalnya di pantai
Dicambuk oleh kata-kata ini, para pasukan Islam di bawah pimpinan Thariq menaklukkan pasukan Barat yang kuat dan membawa bendera Islam sampai ke balik tembok yang memagari
Memang setelah wafatnya Rasulullah s.a.w., posisi kaum muslimin mulai terancam dari semua sisi. Kerajaan-kerajaan kuat seperti Romawi dan
Dasar-dasar agama Islam, persamaan, dan persaudaraan yang diterapkan memungkinkan bagi bangsa-bangsa yang telah ditaklukkan itu turut serta dalam pemerintahan bersama-sama dengan bangsawan-bangsawan Arab. Islam tidak mengenal adanya pembagian golongan (kasta) dan siap membantu siapa saja dalam usahanya menciptakan kehidupan yang harmonis, rukun, dan damai.
Thariq bin Ziyad -seorang budak Barbar- adalah bekas pembantu Musa bin Nushair, seorang raja muda Islam di Afrika. Pada saat itu, ketika Afrika sedang asyik menikmati suasana keadilan, toleransi yang tinggi dan kemakmuran di bawah pemerintahan Islam, tetangganya, Spanyol, sedang resah menghadapi kekejaman dan kekerasan raja Gotik dari Jerman. Kesucian para wanita terancam dan para petani dikenakan pajak yang mencekik. Raja dan antek-anteknya bersukaria dalam kemewahan sedangkan rakyat merintih kelaparan.
Sejumlah besar pengungsi dari Spanyol yang beragama Kristen dan Yahudi yang mendapat tekanan di bawah kekuasaan Gotik mendapat perlindungan dari orang-orang Islam Afrika. Salah seorang dari mereka adalah Julian, gubernur
Sementara itu, pertempuran paling seru terjadi di Eropa yang pada akhirnya membawa kemenangan di pihak Thariq. Dalam pertempuran tersebut, Musa bin Nushair, atasan Thariq turut serta. Selanjutnya kedua jenderal besar itu bergerak maju terus berdampingan dan dalam waktu kurang dari 2 tahun seluruh daratan Spanyol jatuh ke tangan Islam. Portugis ditaklukkan pula setelah beberapa tahun kemudian.
Phillip K. Hitti menulis, " Ini merupakan perjuangan besar yang terakhir dan paling sensasional bagi bangsa Arab, membawa masuknya wilayah Eropa yang sangat luas yang belum pernah mereka peroleh sebelumnya ke dalam kekuasaan Islam…..Kecepatan pelaksanaan dan kesempurnaan keberhasilan operasi ke Spanyol ini telah mendapat tempat yang unik di dalam sejarah peperangan abad pertengahan."
Musa dan Thariq pasti akan dapat dengan mudah menaklukkan seluruh Eropa. Tak seorangpun dapat menghentikan gerak laju mereka, tetapi Allah s.w.t. berkehendak lain. Ketika mereka merencanakan penyerbuan ke Eropa, mereka mendapat panggilan dari Khalifah untuk datang ke Damaskus. Mereka menunjukkan sikap disiplin yang tinggi dengan mematuhi perintah Khalifah. Setelah berusaha dapat tiba seawal mungkin di Damaskus, Thariq meninggal di
Penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam membuka era baru bagi semenanjung tersebut. Hal ini mendorong timbulnya revolusi sosial dimana kebebasan beragama benar-benar diakui. Ketidaktoleransian dan penganiayaan yang biasa dilakukan oleh orang-orang Kristen, digantikan oleh toleransi yang tinggi dan kebaikan hati yang luar biasa. Kota-kota yang ditaklukkan menerima syarat-syarat yang menguntungkan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Tentara Islam yang kedapatan melakukan tindakan kekerasan dikenakan hukuman yang berat. Tidak ada harta atau tanah milik rakyat yang disita dengan sewenang-wenang. Orang-orang Islam malahan memperkenalkan sistem perpajakan yang jitu dan dengan cepat membawa kemakmuran di semenanjung itu serta menjadikannya sebagai negeri teladan di Barat. Orang-orang Kristen dibiarkan memiliki hakim sendiri untuk memutuskan perkara-perkara mereka. Semua komunitas mendapat kesempatan yang sama dalam pelayanan umum.

No comments:
Post a Comment