Friday, September 29, 2006

ARKANUL BAI’AT

1. Al Fahmu

Faham yang menyeluruh sebagai satu dasar pemikiran yang benar, sangatlah diperlukan. Faham tidak saja dalam bidang amal, juga dalam bidang aqidah. Faham juga merupakan suatu dasar bagi suatu amal yang benar.

Faham yang sempurna dan yang benar.


2. Ikhlas

Keikhlasan seseorang tercermin dari ucapan, tingkah laku dan kesungguhannya yang ditujukan untuk mencari keridhaan Allah dan pahala-Nya.

“ Katakanlah,’ Sesungguhnya sholatku , ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah , Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri( kepada Allah ).”(QS. Al An’am :162-163).


3. Al Amal

Seseorang yang melakukan suatu aktifitas (amal) telah terlebih dahulu mendapatkan ilmunya sehingga aktifitas tersebut berjalan sesuai dengan maksud dan arahnya. Ilmu yang dimiliki yang ditunjang oleh keikhlasan akan membuahkan amal yang baik. Adapun tingkatan amal dimulai dari memperbaiki diri sendiri, membentuk keluarga muslim, membimbing masyarakat, membebaskan tanah air dari penjajah, memperbaiki keadaan pemerintah, mempersiapkan seluruh aset di dunia untuk kemaslahatan umat dan menegakkan kepemimpinan di dunia dengan menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia.


4. Jihad

Melaksanakan jihad merupakan kewajiban yang akan terus dilaksanakan sampai akhir kiamat. Berjihad memiliki beberapa tingkatan. Pertama adalah hati yang melakukan penolakan terhadap kemungkaran. Selanjutnya adalah penolakan kemungkaran dengan lisan, tulisan dan kekuasaan. Puncaknya adalah berperang di jalan Allah.

Allah Swt berfirman :

“ Dan berjihadlah dijalan Allah dengan sebenar-benar jihad.”( QS.Al-Hajj : 78)


5. Pengorbanan (At-thadiyyah )

Untukmeraih tujuan yang diinginkan mutlak adanya suatu pengorbanan, baik jiwa, harta, waktu, kehidupan dan segala sesuatu yang dimiliki. Perjuangan selalu diikuti dengan pengorbanan.


6. Taat (At-Tha’ah )

Taat adalah melaksanakan perintah dan menjalankannya dalam berbagai kondisi yang dihadapi. Ketaatan diwajibkan dalam 3 fase dakwah, yaitu :

Ta,rif ( pengenalan )

Takwin (pembentukan )

Tanfidz (pelaksanaan )

Allah SWT berfirman :

“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-nya dan ulil amri diantara kamu…( QS. An-Nisaa : 59 ).


7. Tsabat

Tsabat adalah senantiasa teguh dan bersungguh-sungguh di jalan yang mengantarkan kepada tujuan. Tidak mengenal jauhnya jalan dan lamanya waktu yang diperlukan hingga ia menemui Allah. Salah satu dari kedua kebaikan akan didapat, yaitu kemenangan atau mati syahid.

Allah SWt berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga ! Dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Qs. Ali Imran : 200 ).


8. At-Tajarrud

Tajarrud adalah membersihkan pola pikir dari berbagai prinsip dan pengaruh individu. Tajarrud adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengkap fikrah.


9. Persaudaraan

Hati dan ruhani yang terikat dengan aqidah adalah wujud dari persaudaraan yang hakiki, persaudaraabn dan persatuan membutuhkan adanya cinta kasih. Wujud cinta kasih minimal adalah kelapangan dada dan puncaknya adalah itsar (mementingkan orang lain).

Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al- Hujurat :10 )


10. Tsiqah

Tsiqah adalah kepercayaan yang memberikan rasa puas dari yang dipimpin terhadap yang memimpin dalam hal kepemimpinan dan keikhlasannya. Selanjutnya kepuasan ini menghasilkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan.

Allah SWT bergirman :

“Maka yang lebih baik dan utama bagi mereka adalah tanda ketaatan dan ucapan yang baik. (Qs. Muhammad : 20-21 )

Thursday, September 28, 2006

Kalaulah tiba waktu untuk melepaskan suatu amanah …….

Kalaulah tiba waktu untuk melepaskan suatu amanah …….

Kawan, kalau tiba masanya …….
Tak ingin kubisikkan cerita lama itu
Kenapa Aku terpilih ?
Kenapa Aku terpaku merasa sanggup ?
Padahal Aku tahu, jelaga-jelaga hitam melingkupi amanah itu …….
Yang sempat menyesakkan nafas, membekukan ekspresi jiwa

Kawan, kalau tiba masanya …….
Tak ingin kuingatkan cerita lama itu
Ketika Aku mengeluh …….
Ketika Aku merasa sendiri …….
Ketika Aku tak sadar melalaikannya …….
Padahal terucap walau samar, sebuah janji hati untuk merampungkannya
Meskipun kugenggam amanah itu dengan tangan berkeringat dan bergetar

Kawan, kalau tiba masanya …….
Tak ingin kuusik cerita lama itu
Bahwa kita pernah tertawa lepas
Bahwa kita sempat bercengkrama bersama
Bahwa kita bisa saling mengerti walau tak setiap kali
Karena kita tahu, setiap diri tak pernah sama dan serupa
Walau selayang terlihat sama, mengapa segan menyatukan hati

Tapi kawan, kalau tiba masanya …….
Ingin kukatakan kepada kalian, sebuah permohonan maaf …….
Jika tak sadar Aku pernah berprasangka
Jika Aku pernah kecewa
Jika tak dapat merangkai kata-kata bijak
Jika Aku hanya memendam ketidaksukaan
Jika Aku tak bisa mengukir apa-apa
Jika Aku tak mampu memberi yang terbaik …….
Karena Aku adalah seperti ini adanya ……….

Robbi …….
Kalaulah tiba waktunya melepaskan suatu amanah …….
Bilakah kutemui lagi amanah seindah ini, kuhanya berharap …….
Limpahan segunung kekuatanMu kepadaku yang lemah ini
Atau limpahkan kepada hambaMu yang lemah ini
Atau limpahkan hambaMu yang lebih perkasa
Lebih bijak perkataan dan keputusannya ……
Lebih bersih hatinya …….
Lebih tajam bashirohnya …….
Lebih deras dzikirnya …….

Kalaulah tiba waktunya melepaskan suatu amanah …….

Wallohu a’lam bishshowab …….

Panglima Thariq Bin Ziyad

Thariq bin Ziyad

Peletak Era Baru Islam di Spanyol

Setelah mendarat di wilayah pantai Spanyol, sambil memandang ke arah karang yang berada di bawah mereka dan kemudian dinamai dengan Jabal al-Tariq (Jibraltar), penakluknya, Thariq bin Ziyad, memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa para pasukan Islam dari Afrika menyeberangi selat tersebut pada tahun 711 Masehi.

"Kenapa anda membakar kapal-kapal itu ?" bertanya para prajuritnya yang keheranan.

"Bagaimana kita kembali nanti?" sahut yang lainnya.

Thariq nampaknya tidak mengabaikan pertanyaan prajuritnya tersebut.

Sebagai jawabannya, ia mengungkapkan kata-katanya yang bersejarah, yang mampu membangkitkan semangat para prajurit muslim untuk berani. Dia berkata : "Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya mempunyai dua pilihan, menaklukkan negeri ini dan kemudian menetap di sini atau kita semua binasa di tangan musuh."

Iqbal menggubah syair yang membangkitkan semangat tentang peristiwa bersejarah itu dalam karya Persianya yang berjudul "Piyam-i-Mashriq" yang berbunyi:

"Tatkala Thariq membakar kapal-kapalnya di pantai Andalusia (Spanyol), prajurit-prajuritnya mengatakan bahwa tindakannya itu tidak bijaksana. Bagaimana mereka bisa kembali ke negeri asal mereka ?, dan perusakan peralatan adalah bertentangan dengan hukum Islam. Mendengar itu semua, Thariq menghunus pedangnya seraya mengatakan bahwa setiap negeri adalah kepunyaan Allah dan di situ juga kampung halaman kita."

Dicambuk oleh kata-kata ini, para pasukan Islam di bawah pimpinan Thariq menaklukkan pasukan Barat yang kuat dan membawa bendera Islam sampai ke balik tembok yang memagari kota Pyrennes.

Memang setelah wafatnya Rasulullah s.a.w., posisi kaum muslimin mulai terancam dari semua sisi. Kerajaan-kerajaan kuat seperti Romawi dan Persia yang bertetangga pada mulanya berkomplot untuk mengikis habis kekuatan Islam. Namun pada akhirnya, kaum muslimin mampu menaklukkan kedua kekaisaran terbesar tersebut dan dalam waktu kurang dari setengah abad, mereka (pasukan Islam) telah melebarkan wilayahnya di tiga benua terkenal.

Dasar-dasar agama Islam, persamaan, dan persaudaraan yang diterapkan memungkinkan bagi bangsa-bangsa yang telah ditaklukkan itu turut serta dalam pemerintahan bersama-sama dengan bangsawan-bangsawan Arab. Islam tidak mengenal adanya pembagian golongan (kasta) dan siap membantu siapa saja dalam usahanya menciptakan kehidupan yang harmonis, rukun, dan damai.

Thariq bin Ziyad -seorang budak Barbar- adalah bekas pembantu Musa bin Nushair, seorang raja muda Islam di Afrika. Pada saat itu, ketika Afrika sedang asyik menikmati suasana keadilan, toleransi yang tinggi dan kemakmuran di bawah pemerintahan Islam, tetangganya, Spanyol, sedang resah menghadapi kekejaman dan kekerasan raja Gotik dari Jerman. Kesucian para wanita terancam dan para petani dikenakan pajak yang mencekik. Raja dan antek-anteknya bersukaria dalam kemewahan sedangkan rakyat merintih kelaparan.

Sejumlah besar pengungsi dari Spanyol yang beragama Kristen dan Yahudi yang mendapat tekanan di bawah kekuasaan Gotik mendapat perlindungan dari orang-orang Islam Afrika. Salah seorang dari mereka adalah Julian, gubernur Ceuta yang putrinya telah dinodai oleh raja Roderick, raja bangsa Gotik. Mereka memohon kepada Musa untuk memerdekakan negeri mereka dari penindasan raja yang lalim itu.

Sementara itu, pertempuran paling seru terjadi di Eropa yang pada akhirnya membawa kemenangan di pihak Thariq. Dalam pertempuran tersebut, Musa bin Nushair, atasan Thariq turut serta. Selanjutnya kedua jenderal besar itu bergerak maju terus berdampingan dan dalam waktu kurang dari 2 tahun seluruh daratan Spanyol jatuh ke tangan Islam. Portugis ditaklukkan pula setelah beberapa tahun kemudian.

Phillip K. Hitti menulis, " Ini merupakan perjuangan besar yang terakhir dan paling sensasional bagi bangsa Arab, membawa masuknya wilayah Eropa yang sangat luas yang belum pernah mereka peroleh sebelumnya ke dalam kekuasaan Islam…..Kecepatan pelaksanaan dan kesempurnaan keberhasilan operasi ke Spanyol ini telah mendapat tempat yang unik di dalam sejarah peperangan abad pertengahan."

Musa dan Thariq pasti akan dapat dengan mudah menaklukkan seluruh Eropa. Tak seorangpun dapat menghentikan gerak laju mereka, tetapi Allah s.w.t. berkehendak lain. Ketika mereka merencanakan penyerbuan ke Eropa, mereka mendapat panggilan dari Khalifah untuk datang ke Damaskus. Mereka menunjukkan sikap disiplin yang tinggi dengan mematuhi perintah Khalifah. Setelah berusaha dapat tiba seawal mungkin di Damaskus, Thariq meninggal di sana beberapa saat kemudian.

Penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam membuka era baru bagi semenanjung tersebut. Hal ini mendorong timbulnya revolusi sosial dimana kebebasan beragama benar-benar diakui. Ketidaktoleransian dan penganiayaan yang biasa dilakukan oleh orang-orang Kristen, digantikan oleh toleransi yang tinggi dan kebaikan hati yang luar biasa. Kota-kota yang ditaklukkan menerima syarat-syarat yang menguntungkan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Tentara Islam yang kedapatan melakukan tindakan kekerasan dikenakan hukuman yang berat. Tidak ada harta atau tanah milik rakyat yang disita dengan sewenang-wenang. Orang-orang Islam malahan memperkenalkan sistem perpajakan yang jitu dan dengan cepat membawa kemakmuran di semenanjung itu serta menjadikannya sebagai negeri teladan di Barat. Orang-orang Kristen dibiarkan memiliki hakim sendiri untuk memutuskan perkara-perkara mereka. Semua komunitas mendapat kesempatan yang sama dalam pelayanan umum.

Pemerintahan penguasa-penguasa Islam yang baik dan bijaksana ini membawa efek yang baik. Orang-orang Kristen, termasuk para pendetanya yang pada mulanya meninggalkan rumah mereka dalam keadaan ketakutan, kembali pulang dan menjalani kehidupan yang makmur dan bahagia. Seorang penulis Kristen terkenal menulis: " Muslim-muslim Arab itu mengorganisir kerajaan Kordoba dengan baik, yang merupakan keajaiban Abad Pertengahan. Merekalah yang memegang obor pengetahuan dan peradaban, kecemerlangan dan keistimewaan kepada dunia Barat di saat semua negara Eropa terperosok di dalam percekcokan dan kebodohan yang biadab".

Tuesday, September 26, 2006

Koneksi Internet untuk Laboratorium Hasil Kloning

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan sebelumnya yang bertajuk 'Kanibalisme dan Kloning, Kiat Hadapi Keterbatasan Fasilitas'.

Sementara itu, ketika saya mulai menikmati ide yang mudah-mudahan bisa jadi inspirasi "cemerlang" -menurut saya- karena muncul sebuah fenomena di kalangan guru komputer/TIK. Tanpa mengurangi rasa hormat dan tanpa bermaksud merendahkan teman-teman guru, ternyata sebagian dari guru komputer teman-teman saya banyak yang tidak mengetahui tentang teori/praktek LAN apalagi PC Cloning.

Selain itu, tidak sedikit yang belum menguasai seluk beluk hardware komputer. Mungkin wajar, semua itu kembali kepada sarana dan prasarana pendukung pada saat belajar TI dulu. Solusinya adalah "belajar lagi" dengan guru-guru komputer yang memang menguasai materi LAN maupun hardware.

Saya dan teman-teman guru komputer memiliki wadah -sama seperti mata pelajaran lain- untuk bisa berdiskusi, berbagi pengalaman dan membuat program peningkatan mutu pendidikan, yaitu MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Dalam wadah itulah kami berusaha berbagi ilmu tentang TI dan saling melengkapi. Salah satu programnya adalah pelatihan LAN dan hardware bagi guru-guru komputer yang belum atau kurang menguasainya.

Tahun kedua mengajar, segalanya berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Berbagai kemudahan ditemui dengan menggunakan PC Cloning. Mulai dari komputer Pentium 1 yang tidak lagi lambat, dapat nge-print langsung karena semua komputer terhubung dalam satu jaringan, dapat berbagi file, dapat berkomunikasi dengan komputer lain, hingga -saya pribadi- dapat belajar membangun situs sederhana dan mengujicobakan dalam jaringan lokal. Subhanallah...

Waktu terus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi dan penyempurnaan kurikulum. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, walaupun KBK sekarang sudah tidak diberlakukan, memuat materi yang menurut saya menjadi beban bagi guru maupun pihak sekolah. Materi tersebut adalah internet yang harus diberikan/diajarkan di kelas 9.

Internet dipandang menjadi beban karena 2 hal; Pertama belum menjadi konsumsi yang umum dimasyarakat dan hanya dikonsumsi oleh kalangan yang terbatas termasuk gurunya. Kedua tidak diimbangi dengan fasilitas atau paling tidak diberikan kemudahan untuk menyediakan fasilitas internet untuk sekolah.

Dua hal di atas menjadi kendala yang menyebabkan materi tersebut sulit untuk disampaikan secara ideal. Salah satu solusi adalah dengan mengajarkannya secara offline dengan segala keterbatasannya. Namun untuk memberikan serta mencerminkan peningkatan kualitas pendidikan hal tersebut, internet cepat atau lambat menjadi sebuah keharusan dan menjadi bagian dari sistem pendidikan.

Melihat tuntutan kurikulum dan perkembangan teknologi komunikasi disertai tanggung jawab sebagai seorang guru komputer/TIK, saya tidak bisa tinggal diam dengan situasi yang tengah terjadi. Maka mulailah saya mencari informasi sebanyak-banyaknya, seperti dahulu mencari informasi PC Cloning, mengenai internet, ISP, instalasi, layanan, tarif, kelebihan, manfaat dan sebagainya. Dengan modal Rp. 4.000 cukuplah untuk mendapatkan informasi yang saya butuhkan di warnet.

Dengan informasi yang diperoleh saya akhirnya memutuskan untuk kembali mengajukan permohonan agar pihak sekolah menyediakan koneksi internet guna keberlangsungan proses belajar mengajar -komputer/TIK- yang ideal. Asumsi awal yang dibangun terhadap pihak sekolah adalah bahwa hal tersebut tidak akan merugikan secara materi pihak sekolah.

Kenapa bisa demikian? Karena selain untuk belajar koneksi internet juga dimanfaatkan sebagai warnet pada jam istirahat belajar. Pemasukan dari hasil warnet dapat menutupi biaya akses internet per bulannya walaupun cuma impas. Dengan asumsi awal tersebut pihak sekolah bersedia mengabulkan permohonan saya.

Alumni STM yang sebelumnya saya ceritakanlah yang akhirnya kembali membantu saya untuk membuat Lab. Komputer saya sekarang untuk bisa terkoneksi dengan internet. Tugasnya adalah men-setting dan menginstalasi, sedangkan saya sebelumnya harus mengurus registrasi koneksi internet hingga selesai. Dari mulai registrasi hingga koneksi tersambung ke semua komputer hanya memakan waktu sepekan dan semuanya bisa langsung dimanfaatkan, karena sebelumnya sudah merupakan LAN (Local Area Network). Jadilah Lab. Komputer yang ada sekarang bertambah lengkap dengan koneksi internet. Alhamdulillah...

Sebagai pelengkap informasi, hal-hal yang perlu diantisipasi dari awal adalah; Pertama, membatasi pemakaian, dalam hal ini download dan upload, karena berhubungan dengan biaya. Saya menggunakan layanan yang masih limited karena keterbatasan anggaran, kecuali jika mampu untuk menggunakan layanan unlimited.

Kedua, menghitung tarif/biaya sewa agar dapat membayar biaya berlangganan setiap bulannya. Sekolah tempat saya mengajar menggunakan sistem full day school, dengan kata lain waktu yang dimiliki untuk menggunakan warnet pada jam istirahat sangat sedikit ditambah batasan pengguna yang boleh hanya kalangan internal sekolah. Sehingga harus benar-benar teliti dalam menghitung pemasukan dan pengeluaran agar tidak rugi. Ketiga, harus ada filter terhadap alamat situs yang berdampak negatif terhadap pengguna.

Singkat cerita, Lab. Komputer tempat saya bekerja sehari-hari kini telah berkembang jauh lebih baik dari pertama kali saya masuk ruangan tersebut. Kini Lab. Komputer sekolah yang saya kelola telah berubah menjadi ber-AC, berkarpet, bermeja komputer yang sangat bagus, berjumlah dua puluh unit Pentium 2, walaupun masih dengan teknologi PC Cloning, bermonitor baru, berserver dua unit, berprinter, berscanner, dan berinternet. Alhamdulillah.

Kanibalisme dan Kloning, Kiat Hadapi Keterbatasan Fasilitas

Cerita ini berawal ketika tiga tahun lalu saya mulai bekerja sebagai seorang staf pengajar alias guru komputer atau dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), guru teknologi informasi & komunikasi (TIK) pada sebuah SMP Islam Terpadu di kawasan Bekasi. Sebuah sekolah yang notabene cukup ternama dan terpandang di Bekasi.

Namun sebagaimana sekolah lain yang juga sama-sama sedang berkembang fasilitas sarana belajar yang dimiliki boleh dibilang belum memadai. Sesungguhnya komentar tersebut telontar dari sudut pandang seorang guru komputer baru, yang harus mengajar dengan tiga buah komputer Pentium 1 second di ruangan yang sedikit berdebu karena sudah lama tidak aktif.

Sebenarnya ada sepuluh unit komputer Pentium 1 second berbagai merk beserta monitor dan meja komputer desain sendiri, namun dari sepuluh unit tersebut hanya tiga unit yang dapat berfungsi dengan baik, sisanya harus menempuh proses "kanibal" untuk dapat kembali "hidup".
Pekerjaan pertama saya sebagai guru baru adalah membuat "hidup" tujuh unit komputer yang sedang "mati suri". Akhirnya dengan bekal pelatihan merakit komputer sewaktu masih kuliah, Alhamdulillah berhasil menghidupkan empat unit komputer, sedangkan tiga unit lainnya terpaksa jadi barang rongsokan.

Untuk dapat mengajar dengan baik, sementara ini dibutuhkan tiga unit lagi untuk menggenapkannya menjadi sepuluh unit, karena rata-rata jumlah siswa per kelas adalah tiga puluh orang siswa, jadi paling tidak satu unit komputer dapat dipakai tiga orang siswa. Tiga unit kekurangannya saya minta dilengkapi supaya proses belajar mengajar dapat berjalan dengan "nyaman".

Tanpa menunggu waktu yang lama Pentium 1 second sebanyak tiga buah akhirnya melengkapi laboratorium komputer saya. Oh, ya. Saya bangga juga sekarang sudah punya ruangan yang bisa disebut sebagai laboratorium walau sedikit berdebu karena tanpa AC juga karena jarang dibersihkan oleh bagian kebersihan.

Tahun pertama mengajar, ya menggunakan sepuluh unit komputer yang stand alone itu. Sebuah kesulitan tersendiri karena banyak siswa yang cukup antusias dengan teknologi komputer sementara sarana terbatas. Yang melengkapi kesulitannya adalah, rata-rata siswa memiliki komputer setara Pentium 4 di rumahnya, sehingga muncul suara riuh saat mengajar manakala komputer mulai "lemot".

"Pak, Pak, gimana nih, kok lambat sih..."

"Ngelek nih..." celetuk mereka. Wuih, berat juga rasanya mengajar dengan kondisi seperti itu, sendiri pula. Bolak-balik kesana kemari.

"Pak, Pak... kalo ini caranya, gimana... Pak, Pak... seperti ini betul kan ? Pak, Pak, ke sini dong, ajarin, nggak tau nih, kok bisa begini sih..."

Muncul pikiran dalam benak bahwa kondisi seperti ini tidak boleh terus berlanjut, tapi mau gimana? Hingga suatu saat terlintas sebuah ide, "PC Cloning". Sebuah teknologi yang kurang familiar bagi sebagian orang, tapi mungkin bisa jadi solusi.

PC Cloning adalah membuat komputer menjadi lebih "ngebut" dengan dibantu sebuah server sebagai induknya. Pentium 1 bisa jadi secepat Pentium 4 jika induknya Pentium 4. Kalo tidak salah, katanya sih begitu, tapi siapa yang bisa ya? Berapa biayanya?

Sebagai ilustrasi tambahan, harga 1 unit komputer Pentium 4 adalah sekitar Rp. 5 juta, 10 unit berarti Rp 50 juta, wow banyak juga. Kalo di Cloning, harga 1 unit "server-serveran" sekitar Rp. 7 juta, instalasi dll sekitar Rp. 3 juta, total 10 juta berarti bisa hemat 40 juta, wow bisa buat beli rumah tipe 21 nih. Hitungan sederhana, tapi mudah-mudahan tidak jauh meleset dari perkiraan.

Berbekal koneksi kenalan dan teman-teman yang mengerti komputer, mulailah saya mencari informasi tentang PC Cloning dan ahlinya. Sampai akhirnya dipertemukan dengan seorang alumni dari STM tempat saya sekolah dulu. Ternyata berbekal lulus STM (STM favorit di Rawamangun), dia katanya mampu belajar mandiri secara otodidak dalam mempelajari PC Cloning, luar biasa.

Mulailah saya berkonsultasi dan berdiskusi tentang ide dan realisasinya. Ternyata semua bisa diatur, tidak ada masalah dan yang tidak kalah luar biasa biayanya tidak jauh meleset dari perkiraan.

Tanpa banyak pertimbangan, saya mulai membuat rancangan proposal pengajuan dana tentang PC Cloning. Tidak lupa saya jelaskan kelebihan dan perbandingan, untuk memperkuat analisa ilmiah dalam isi proposal. Tanpa banyak pertimbangan pula ternyata proposal saya disetujui karena memang argumen dan analisanya sangat bisa dipertanggungjawabkan. Alhamdulillah.

Pekerjaan "menyulap" Pentium 1 jadi Pentium 4 pun dimulai. Belanja "server" Pentium 4, kabel UTP + connector RJ45, Switch, LAN Card yang ada Boot ROM-nya, dan lain-lain. Dalam 3 hari instalasi hardware dan software, termasuk LAN PC Cloning bagian dari teknologi jaringan atau LAN semuanya rampung dan sudah dapat diuji coba.

Dengan perasaan dag dig dug, harap-harap cemas bercampur senang, akhirnya komputer lawas dan berdebu, Pentium 1 second 166 Mhz dengan RAM 32 tanpa harddisk setelah di "sulap" ternyata mampu menjalankan Windows Xp dengan segala software pelengkap tanpa banyak keluhan bisa "ngebut". Luar biasa, Alhamdulillah.


(bersambung.....)